Sejak Kapan Kamu Ada, Pelakor?

            Dewasa ini banyak sekali pemberitaan mengenai pelakor (perebut laki orang) atau pebinor (perebut bini orang), entah itu berupa video, photo bahkan capture-an message dari sang pelakor kepada suami/istri seseorang. Mulai dari artis hingga orang biasa, ramai-ramai membagikan cerita perselingkuhan yang mereka alami sendiri di media social. Mencintai seseorang memang bukanlah suatu hal yang salah, kita boleh saja mencintai semua orang tanpa terkecuali tapi bukankah kita diajarkan untuk tidak bahagia diatas penderitaan orang lain?. Pelakor dan pebinor tidak harus selalu tentang suami atau istri,  melainkan segala sesuatu yang berhubungan tentang merebut pasangan orang lain secara sembunyi-sembunyi bahkan terang-terangan. Memang kerap kali kita hanya menyalahkan sosok orang ketiga saja, tanpa melihat apa factor-faktor yang melatar belakangi hal tersebut dapat terjadi. Kita harus ingat, sosok pelakor atau pebinor tidak akan pernah ada sendainya pasangan bisa menjaga kehormatan dan harga dirinya sendiri, ini sih bisa dibilang cuma urusan bisa jaga diri atau tidaknya pasangan kita. Seperti permainan ping pong, kisah perselingkuhan tidak akan pernah terjadi bila tidak ada umpan balik diantara keduanya, tapi jangan hanya menyalahkan pelakor/pebinor dengan pasangan yang selingkuh karena faktanya seorang professor antropolog Dr. Helen Fisher menganggap stereotip perbedaan rasio selingkuh pria-wanita sebenarnya ilusi belaka. “Men want to think women don’t cheat, and women want men to think they don’t cheat, and therefore the sexes have been playing a little psychological game with each other.”.

            Seringkali dalam presepsi kita pasti laki-laki yang memulai perselingkuhan, padahal faktanya perempuan juga punya kesempatan yang sama untuk terjerat skandal perselingkuhan. Bedanya, kaum perempuan jauh lebih tertutup soal ini. Dalam sejumlah penelitian di Ohio University seputar perbandingan statistic perselingkuhan, kaum pria dinilai lebih jujur mengungkapan perselingkuhannya sedangkan kaum wanita cenderung berhati-hati dan menutupi fakta. Namun hal itu juga tanpa sebab, jika laki-laki memilih selingkuh demi kepuasan fisik, wanita justru selingkih karena kebutuhan emosional, jadi laki-laki mulailah untuk memikirkan perasaan pasangan wanitamu karena sesungguhnya yang dibutuhkan hanyalah sebuah kasih sayang dan perhatian. Apabila sebuah pasangan dapat melengkapi satu sama lain, pasti hadirnya orang ketiga tak akan muncul. Terkadang kita tak perlu menyalahkan orang ketiga, karena seringkali masalah utamanya justru ada dihubungan itu sendiri, Dalam suatu hubungan, saat pengendalian diri tak mampu dilakukan maka tak peduli laki-laki atau perempuan keduanya bisa jadi punya kans untuk terlibat dalam hubungan terlarang. Jadi anggapan masyarakat yang selama ini selalu menganggap para suami adalah sosok yang direbut pelakor atau para istri adalah sosok yang direbut pebinor agaknya perlu sedikit diluruskan, karena saat seseorang bisa menolak pengkhinatan, segigih apapun nggak akan ada pelakor atau pebinor yang bakal diviralkan. Ya kalau viral jangan hanya sosok pelakor atau pebinor dong, sekalian saja lawan mainnya dikasih efek jera.

                       Setiap hubungan memang berisikan timbal balik, dua-duanya harus sama sama berjuang unuk menjaga hubungannya sampai ajal tiba. Kita memang tidak bisa menjaga hati pasangan kita, tapi setidaknya kita mampu mengontrol diri kita sendiri. Apa yang bisa kita lakukan? Ya, memberikan yang terbaik semampu kita. Menjadi wanita yang baik dan cerdas, tidak membebani laki-laki, tidak sedikit-sedikit bergantung. Saat kita cerdas, kita mampu melakukan semuanya dengan baik, bahkan saat kita tahu pasangan kita selingkuh, kita akan menghadapinya dengan kepala dingin, tidak berlaku murahan seperti adu mulut, adu fisik dan lainnya. Saat kita menjadi wanita yang positif, percaya padaku laki-laki akan 1000% menyesal pernah meninggalkanmu dan menyakiti hatimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s