Lebih dekat dengan sosok Setyo Agung Nugroho, Sejak Kecil Terbiasa Bekerja Keras

 

2c1b6c7e227034b1239cbfcf0ed13868_754x

Masyarakat Jawa Tengah, khusunya Semarang pecinta PSIS tisak asing dengan sosok yang satu ini, Setyo Agung Nugroho atau biasa disapa Agung sebetulnya bukanlah seorang pejabat atau anak pejabat. Dia adalah anak dari keluarga yang tak berada. Namun berkat kegigihan dan ketekunannya, kini Agung menjadi salah satu pengusaha sukses dibidang kontraktor dan supplier barang.

Agung lahir di perkampungan keras, persisnya di kampung Kakap Kuningan Semarang Utara 9 Agustus 1967 silam. Dia anak ke ketiga dari enam bersaudara. Sejak SD dia memang sudah suka bola dan bergabung di klub Tcs BAT yang latihannnya di lapangan Pengapon Semarang. Namun pada saat kelas VI ia sempat bola karena sepatunya hilang. “Bapak saya memang ingin agar saya menjadi pemain bola pada saat saya kelas 2 SMA. Namun karena orang tua saya bukanlah orang yang berada, maka ketika sepatu saya hilabf saya langsungb berhenti bermain bola, karena tidak berani minta lagi.”ucap Agung saat ditemui dirumahnya di Jl. Murti Mulyo No.26 Semarang, Rabu kemarin.

Karena memang berasal dai keluarga yang kurang mampu, sejak SMP Agung sudah terbiasa bekerja keras. Pada saat sekolah SMP dan SMA, Agung sudah bekerjan membantu orang tuanya, seperti jualan bensin eceran, menjadi kernet motor, dll. Hari-harinya terasa semakin berat setelah menginjak kelas 2 SMA bapaknya meninggal dunia. Tak ayal, dia lebih keras lagi dalam bekerja.  “Pada saat kelas 2 SMA bapak saya meninggal. Saya harus bekera lebih giat lagi untuk membantu adik-adik saya. Sepulang sekolah saua bekerja menjadi kernet angkot” terang Alumnus SMP Negeri 6 Semarang dan SMA Ronggolawe Semarang itu.

Setelah lulus SMA tahun 1987 Agung mencoba meraih keberuntungan dengan bekerja disebuah pabrik dikawasan jalan Kaligawe Semarang. Namun, sepertinya perkejaaan tesebut kurang cocok, sehingga sebelum setahun Agung sudah keluar dari perusahaan tersebut. Selanjutnya Ia mencoba keberuntungan dengan bekerja di perusahan kontraktor, rupanya disinilah Agung menemukan kecocokan. Disini, ia mampu bertahan selama 10 tahun dan akhirnya keluar dari perusahaan kontraktor tersebut karena terjadi krisis moneter pada tahun 1997 lalu. “Disitulah saya banyak mendapat pelajaran berharga, selain itu saya merasa suka berada dibidang ini.” Cetus suami dari Hening Wismandani yang dinikahinya tahun 1995 itu.

Agung selanjutnya mencoba mandiri dengan menjadi bos borong. Dari pengalaman dan kegigihannnya itu, bos borongnya berhasil maju dengan pesat. Tidak sampai dua tahun dia sudah bisa mendirikan perusahan kontraktor sendiri. Sukses ditapaki pada tahun 1999 dan perusahan pertama yang didirikannya bernama CV Bintang Pratama. Selang setahun kemudian, seiring kelahiran anak keudanya, Agung kembali mendirikan perusahan kontaktor lagi dengan nama PT. Bulan Aldizza. Kedua nama perusahaan tesebut diambil dari nama kedua anaknnya yaitu Hega Bintang Pratama Putra dan Devanada Bulan Aldizza.

Lagi-lagi kedua perusahaannya  berkembang pesat. Selang beberapa tahun kemdian, lekai yang kini ercatat sebagi Wakil Ketua Gapensi Kota Semarang tesebut mendirikan perusahan baru dengan nama CV. Catur Karya Persada, CV. Kendaga dan CV. Bintang Bulan. Kelima perusahaanya tersebut bergerak dalam bidang kontraktor dan supplier dengan klasifikasi kecil hingga besar. Sudah banyak proyek yang dikerjakannya mulai yang ada didalam Kota Semarang hingga luar provinsi Jawa Tengah.

Pada saat perusahaannya berkembang pesat, karena Agung sangat menyukai sepak bola ia tetap menyempatkan diri untuk menonton PSIS baik tim yunior maupun senior, kesukaannya dengan PSIS itu akhirnya tercium oleh kenalan sekaligus relasi kerjanya, yaitu Suka Adi Satya putra walikota Semarang pada saat itu, Sukawi Sutarip. Lantas, pada tahun 2004 Agung diminta oleh Suka Adi untuk memenejeri tim PSIS Junior, yang akan bertanding diajang Piala Suratin. Setelah dipertimbangkan akhirnya Agung menerima tawaran tersebut, bersama dengan pelatih Cornelis Soetadi, Agung berhasil menjadikan PSIS Yunior menjadi juara pertama nasional.

Awalnya keluaga Agung sempat protes akan keputusannya karena merasa perhatian Agung kepada keluarganya berkurang, selain berkorban waktu tidak dipungkiri menjadi manajer sebuah tim bola memang banyak ruginya, baik rugi materi dan rugi waktu. Dari segi materi Agung mengaku tombok, namun karena sepakbola adalah kecintaan dan hobby dari pria pecinta kucing ini, akhirnya ia tetap menjalaninya dengan suka cita dan keluarganya pun akhirnya sudah terbiasa dan mengerti dengan kesibukan Agung ini.

“Padahal saat belum punya uang dulu, saya nekat meloncat tembok kalau menonton PSIS. Begitu punya uang saya baru bisa membeli karcis masuk, bahkan jika ada kesempatan saya langsung masuk kelapangan hanya untuk sekedar berfoto dengan pemain rasanya sudah senang sekali, dan menjadi manajer PSIS adalah salah satu mimpi yang bisa terjadi dihidup saya”

Akhinya pada tahun 2005 ia diajak Yoyok Sukawi untuk ikut andil dalam kesuksesan PSIS Senior, dan hingga saat ini Agung masih bersedia mendampingi PSIS berlaga tanpa bayaran gaji 1 rupiahpun. Keloyalitasan Agung kepada PSIS memang tidak asing ditelinga para pengikut bola, bahkan Agung sering disebut sebagai bapaknya tim karena Agunglah yang menjadi sosok yang paling dekat dengan para pemain.

Sebagai orang yang berperan dalam tim kehadiran Agung dimanapun PSIS berada sangatlah penting. Baik itu ketika latihan, maupun pertandingan. Tak ayal maka sebagian besar waktunya habis untuk PSIS bayangkan saja sudah 14 tahun Agung menemani PSIS berapa banyak waktu dan materi yang dia korbankan.“ Jujur saja sebagian waktu saya untuk PSIS. Ya kalau dipresentasi untuk PSIS mungkin 70% sementara untuk keluarga dan pekerjaan hanya 30% namun tidak masalah karena itu semua saya lakukan dengan senang hati” Ungkapnya.

Meski demikian, bukan berarti Agung melupakan tugasnya sebagai suami, orang tua dan sekaligus pimpinan didalam perusahaannya. Terhadap kedua anak dan istrinya dia tetap perhatian. Tak jarang, ketika ada waktu luang ia langsung mengajak keluarganya untuk sekedar jalan-jalan ke mall meski hanya sekedar belanja dan makan. Dan jika ada waktu yang agak panjang, ia selalu mengajak kedua anak dan istrinya untuk liburan keluar kota, Agung berpesan bahwa segala sesuatu apabila kita melakukannya dengan iklas dan senang hati, sesulit apapun itu pasti akan bisa dihadapi dengan baik. Dan yang paling penting adalah harus pintar membagi waktu.2c1b6c7e227034b1239cbfcf0ed13868_754x.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s